148
148 shares, 148 points

Oleh Tara Talhita, Aktivis Sekolah Kembali Ke Akar

Memasuki minggu terakhir di bulan April, saya ingin sedikit menganalisa survey, dirilis oleh Sekolah Kembali ke Akar berjudul “Harapan dan Kecemasan pada Bulan Pertama Pandemi Covid 19 di Indonesia”.

Pengambilan data survey dilakukan pada periode minggu pertama sampai minggu ketiga bulan April 2020. Jika dilihat dari perkembangan covid 19 di Indonesia saat itu, sudah terdapat 1,677 kasus positif serta tingkat kematian sejumlah 157 orang. Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) juga mulai diberlakukan di Jakarta sejak tanggal 10 April sampai saat ini.

Kondisi tersebut tentunya menjadi variabel yang mempengaruhi jawaban para responden.

Overview Survey

Survey yang melibatkan lebih dari 500 sampel responden ini, memiliki komposisi gender yang cukup berimbang; yaitu 52% wanita dan 48% pria. Sedangkan untuk rentang usia, mayoritas responden berusia 25 tahun keatas, berprofesi sebagai karyawan, wirausaha dan ibu rumah tangga.

Pertanyaan yang diberikan meliputi; Prediksi kapan pandemi ini berakhir, adakah perilaku yang berubah selama pandemi, dan temuan survey yang ingin saya bahas secara lebih spesifik adalah mengenai “Apakah hal yang paling ditakutkan dari kondisi pandemi covid 19?”

Takut dengan Kondisi Ekonomi

Sebagian besar responden, yaitu sebanyak 59% mengkhawatirkan tentang kondisi ekonomi, bahkan menurut analis survey, melebihi rasa takut akan virus itu sendiri.

Banyak analisa, prediksi dan studi baik di Indonesia maupun global membahas mengenai bayang-bayang resesi ekonomi yang terjadi saat ini dan nanti.

Nyatanya, sudah banyak layoff tenaga kerja di berbagai sektor dan industri. Tidak hanya dari sektor kecil menengah, industri besar seperti perhotelan dan penerbangan menjadi sektor yang paling berat dihantam badai covid 19, sehingga terpaksa mengeluarkan kebijakan merumahkan karyawan untuk efisiensi.

Berbagai solusi disarankan oleh pakar keuangan; menyiapkan dana darurat, mulai berjualan online dan mencari model bisnis lainnya. Akan tetapi tidak semua orang memiliki sumber, market serta kemampuan / bakat berjualan. Lalu apa yang harus dilakukan?

Don’t get too stressed out, walaupun saya memahami betul bahwa persoalan ekonomi dan keuangan adalah problematika tersendiri terutama di tengah-tengah kondisi masyarakat Indonesia.

Paling tidak, yang bisa kita lakukan untuk meredam rasa takut terhadap kondisi ekonomi ini adalah mengalihkannya dengan hal-hal yang kita sukai, mulai dari hobby misalnya. Senang tanaman? Kita dapat mencoba berkebun dengan metode hidroponik, menghasilkan sayur-mayur untuk diolah secara mandiri.

Suka memasak? Kita dapat bereksperimen dengan resep-resep baru. Bisa jadi hasilnya memuaskan dan dapat dinikmati bersama keluarga.

Hobi dapat mengalihkan rasa takut bahkan tidak menutup kemungkinkan, hobi juga bisa menjadi peluang yang dapat mengatasi beban ekonomi di kemudian hari.

Takut Tidak Produktif selama Karantina

Selain kondisi ekonomi yang mengkhawatirkan mayoritas responden, sebagian kecil lainnya memberikan respon bahwa ketakutan selama masa karantina adalah tidak mampu beraktivitas seperti biasa dan tidak bisa melakukan tugas dengan optimal. Wajarkah?

You are doing just fine!

Inilah masa dimana informasi didominasi oleh berita covid 19 berjejal masuk ke dalam otak. Tentunya secara tidak langsung mempengaruhi pikiran sehingga kita merasa ‘tidak mood’ dalam menjalani rangkaian aktivitas yang seharusnya kita lakukan.

Tidak menjadi produktif selama karantina memang menjadi momok yang menakutkan. Tetapi saya percaya bahwa kita tidak sendiri; kita mengalaminya bersama dan memiliki ketakutan yang sama.

We are going through a collective traumatic experience.

Rasa “bersalah” karena tidak produktif, kembali lagi dapat menjadi beban bagi pikiran, memperumit benang kusut yang sudah ada akibat pandemi ini. Agar tidak semakin kusut, kita bisa mengurainya dengan hal menyenangkan, sesederhana kegiatan ‘nyeleneh’ yang sedang ramai berseliweran di jagad twitter yaitu menyusun messes diatas roti atau mencari kegiatan seru lainnya.

Perlu diingat bahwa karantina ini bukanlah ajang untuk saling menghasilkan sebuah masterpiece, menghias rotipun juga mengasikan. It is okay just to stay home, be with your family, and most importantly is to survive, this is enough for now.

Dan ketika semua ini berakhir, itulah saatnya kita kembali menata hidup, tidak takut lagi dan mulai berdamai dengan masa/situasi apapun yang dihadirkan setelah covid-19, embracing the new normal, perhaps?

Tara Talitha

Link full survey Kembali ke Akar:


Like it? Share with your friends!

148
148 shares, 148 points

0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
Video
Youtube, Vimeo or Vine Embeds
Image
Photo or GIF