146
163 shares, 146 points

Jika kita sengaja mengetik “Saung Lisung” pada penterjemah daring internet maka akan terdeteksi dalam bahasa ungkapan sunda, dan memiliki terjemah/arti/maksud dari kalimat itu adalah Tempat Berlindung.

Kita sedang dalam sebuah tempat perlindungan keberlangsungan kehidupan, karena dari saung lisung kita berupaya kembali memahami makna sebuah ketahanan dan kedaulatan pangan. Sudah ditekan tombol Restart untuk memulai kembali. Adaptasi Kebiasaan Baru yang mengarahkan pada Rumah sebagai Tempat Berlindung dan meng-Upgrade diri dengan berbagai kebiasaan yang sudah biasa tapi dilakukan dengan lebih baik. hingga tersebar pesan “Kita tidak bisa menggunakan cara berfikir yang biasa-biasa saja” dari Presiden ke-7 Bangsa Indonesia.

Pemulihan Ekonomi Nasional 2020Kita Bersama Bangun Ekonomi UMKM

Posted by Ekonomi UMKM : BELI Indonesia on Wednesday, 3 June 2020
Ekonomi UMKM : BELI Indonesia

Pertobatan Pengobatan Penobatan

Tiga ungkapan kata yang cukup menunjukan situasi dan keadaan saat ini. Dilihat dari Kamus Besar Bahasa Indonesia, jenis tiga kata itu termasuk dalam sebuah nomina. Nomina dalam ungkapan bahasa Italia berarti Janji; Nomina adalah Janji. Tepat kiranya sebuah Nilai Kata yang menunjukan Nilai Janji dan Angka Perbuatan. Sejak adanya Pandemi, hingga kini semua mengarahkan kepada janji perbuatan yang mesti:

  1. Kita bersama sadar dan menyesal akan dosa (perbuatan yang salah atau jahat) dan berniat akan memperbaiki tingkah laku dan perbuatan. Tersadar, disadarkan, dipaksa sadar akan segala perbuatan yang salah dapat menghantarkan kita kepada penyesalan yang berakhir baik yakni dengan terlahir kembali sifat dan sikap-sikap yang baik bahkan terbaik. Menuju yang Terbaik adalah tujuan jalan akhir kehidupan.
  2. Proses, cara, perbuatan mengobati; proses diri pribadi yang mengupayakan cara-cara men-cara-kan segala perbuatan dalam rangka untuk mengobati. Usaha bersama yang dimulai dari diri, keluarga di rumah bahkan lingkungan sekitar hingga dalam skala besar untuk mendapatkan pengobatan atas hadirnya covid-19. Maksud pengobatan yang dilakukan sejak dalam upaya pencegahan hingga pembatasan agar tidak banyak dan semakin meningkatnya yang sakit.
  3. Proses, cara, perbuatan menobatkan; penghancuran segala ke-aku-an, me-rasa baik-baik saja padahal belum tentu atau merasa sakit padahal belum tentu. Artinya kita menjalani proses perjalanan sebuah penentuan atas hal-hal yang biasa, penting hingga sangat penting atau yang terpenting untuk dipentingkan karena sebuah kepentingan bersama atas nama diri dan kepentingan banyak orang. Hingga, tagar #dirumahaja menjadi sebuah kata pengingat untuk melindungi diri, keluarga dan lingkungan. Diberlakukannya #kerjadarirumah atau Work From Home untuk semua kalangan dan #belajardarirumah serta segalanya mengarahkan pada maksimalisasi Rumah sebagai instrumen dan rumus fungsi terkuat dan terbesar menentukan segalanya. Pelantikan menjadi raja. Pemahkotaan atau penobatan adalah sebuah upacara yang menandai penasbihan resmi dari seorang penguasa monarki dengan kekuasaan agung, biasanya melibatkan ritual pemasangan mahkota di atas kepala penguasa monarki dan persembahan benda-benda kebesaran kerajaan lainnya. Siapa yang akan dipasangkan Mahkota di atas kepalanya? mari kita pahami perlahan.


Tiga kata yang semua menunjukan kepada sebuah proses, harapan, cita-cita serta makna yang hendak dan harus terwujud tanpa ada paksaan. Mengajarkan kita menjadi manusia yang mampu menerima, sabar dan harus memahami keadaan. bahkan dalam sudut pandang kebutuhan hidup, semua mengajarkan efisiensi menuju Pemulihan bahkan pemurnian.


Sedikit menengok sebuah karya sastra yang ditulis sastrawan muda Faisal Syahreza dari Negeri Galuh Mukti, Cianjur. Mari kita tonton dan apresiasi serta menangkap sebisa yang bisa kita raih.

Faisal Syahreza

Nata Niti Nutu; Sebuah Tatanan Nilai dan Arti Harga

Nata-menata; Menata diri, perjalanan dan penataan kembali segala yang kuran, belum atau tidak tertata menjadi dalam porsi dan proporsi serta aksi. Niti-meniti; Meniti (kembali) langkah-langkah yang akan dilakukan bahkan jangan melihat kebelakang karena kita sebetulnya sudah sadar dan tahu yang “belakang” itu pada saat ini kembali berubah dalam hal yang sama tapi tidak biasa, tetap dilakukan tapi dengan inovasi dan terobosan terbaru. Kemudian… Nutu-menutu; Mengubah itu semua agar siap. Layaknya Seorang Ibu yang “Nutu Pare”, menumbuk padi kering di dalam lisung dan halu di tangannya. Bila kita sempat hadir dalam sebuah upacara adat sunda, seren taun atau kegiatan yang menyajikan aktivitas bahkan dalam sebuah sajian seni pertunjukan, Nutu tetap memerlukan tenaga, waktu, proses, ada irama dan alunan suara, terdapat harapan dan usaha maksimal untuk dapat “keluarnya beras dalam bulir padi”.

“Engké jaga, mun tengah peuting, ti Gunung Halimun kadéngé sora tutunggulan, tah éta tandana, saturunan dia disambat ku nu dék kawin di Lebak Cawéné. Ulah sina talangké sabab talaga bakal bedah! Jig geura narindak! Tapi ulah ngalieuk ka tukang!


Like it? Share with your friends!

146
163 shares, 146 points

2 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

    1. Terima kasih Bang Sikoran yang menanggapi tulisan ini. Mari kita terus lanjutkan perjalanan dan penciptaan karya-karya di era kini. Untuk dapat menjadi khasanah ilmu, pengetahuan serta pengalaman dalam memberi kontribusi bagi Bangsa dan Negara kita.

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
Video
Youtube, Vimeo or Vine Embeds
Image
Photo or GIF