171
171 shares, 171 points
Suasana Mini Talkshow Saat Ulang Tahun Ke- 5 Komunitas Perempuan Berkebaya

JAKARTA— Gaes, Teknologi informasi telah tentu saja membuat cara hidup manusia di dunia menjadi mudah, termasuk manusia Indonesia. Bayangin ya, misalnya dalam bidang komunikasi saja. Dulu untuk menyampaikan pesan cukup sulit sekali. Para Founding Father kita butuh berhari-hari untuk menyampaikan Kemerdekaan Indonesia ke tengah peloksok dan pegunungan negeri. Namun sekarang, berkat kemajuan teknologi informasi, masyarakat di berbagai penjuru cukup mudah mendapatkan informas.

Tapi,  tentu saja kemajuan informasi tersebut memiliki dampak negatif, misalnya makin lunturnya masyarakat Indonesia terhadap akar budaya dan kearifan yang menjadi warisan leluhur kita, misalnya dalam berbusana.  

Melihat kecenderungan itu, lima tahun yang lalu, empat perempuan menggagas komunitas Perempuan Berkebaya. Komunitas ini mengkampanyekan gerakan sosial berbusana nasional yang menjadi salah satu jawaban perlunya kaum perempuan berada di garis depan mengaktualisasikan kembali budaya Indonesia dalam kehidupan sehari-hari.

Langkah itu dilakukan mulai dengan mengembalikan kebaya yang dipadu dengan kain, sarung, atau bahkan rok dan celana panjang, sebagai busana sehari-hari.

Kebaya dalam pemahaman gerakan Perempuan Berkebaya bukan sekadar selembar pakain tetapi bermakna filosofis, simbol perjuangan untuk mengembalikan budaya Indonesia sebagai gaya hidup seluruh masyarakat Indonesia.

Perempuan Berkebaya meyakini, budaya sebagai representasi hidup masyarakat yang menyimpan karakter, simbolisme, serta pandangan hidup masyarakat. Untuk itu, setiap orang yang memutuskan bergabung dalam komunitas Perempuan Berkebaya dalam jati dirinya perlu kembali mengaktualisasikan budaya Indonesia.  

“Kebaya adalah salah satu simbol identitas bangsa tentang ke-Indonesiaan karena ia tak hanya milik suku tertentu serta pernah digunakan sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah,” Lia Nathalia, salah satu pendiri Perempuan Berkebaya.

Menurut Ka Lia, Masih banyak nilai budaya yang harus digali dari Indonesia seperti sopan santun, penghormatan pada yang lebih tua, gotong royong, menghargai sesama, dan masih banyak nilai luhur lainnya yang harus diaktualisasikan kembali. Inilah pekerjaan besar yang masih harus dilakukan kerja-kerja sosial bersama antara komunitas  Perempuan Berkebaya dan berbagai kelompok masyarakat.

“Dengan berkebaya dan berkain, kami ingin mengingatkan bahwa Indonesia memiliki busana nasional yaitu kebaya,” Tuti Marlina, pendiri komunitas Perempuan Berkebaya lainnya.

Acara syukuran juga diisi denga fashion show kebaya yang sesuai dengan tema kali ini yaitu kebaya vintage. Para model berasal dari para anggota dan komunitas lainnya termasuk komunitas Nguri Uri Budaya, Chattra Kebaya dan komunitas Cinta Kebaya dan Budaya. Acara syukuran juga disertai dengan mini-talk show mengenai Etika dan Estetika Berkebaya dengan pembicaraan Ibu Mumu Wahyu.

Acara yang berlangsung santai, diiringi musik keroncong dari kelompok musik keroncong Warung Solo. Terpilih pula enam pemenang untuk kategori Perempuan Berkebaya Vintage.


Like it? Share with your friends!

171
171 shares, 171 points

0 Comments

Your email address will not be published.

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
Video
Youtube and Vimeo Embeds
Image
Photo or GIF