132
132 shares, 132 points

Puluhan seniman rupa  muda itu bersemangat menjelaskan karya mereka kepada pengunjung yang hilir berganti di Galeri Edwin, di bilangan Kemang Jakarta Selatan pada Rabu (28/1)  malam. Setidaknya ada sekitar 16 Perupa yang berpartisipasi yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia.

Wulang Sunu, Perupa asal Yogyakarta adalah salah satu pesertanya. Alumni ISI Yogyakarta itu harus rela menyusun waktu  hampir sebulan penuh untuk mengikuti Exhibition dengan tema Use Illusion itu.

Pagelaran ini bagi Wulang terasa spesial mengingat kemasan pamerannya yang baru. “Tema Use Illusion menarik karena bermain dengan aspek-aspek illusion optis, bisa dengan gambar, video mapping, wayang, macam-macam,” ungkap Wulang. Wulang menyuguhkan 5 karya lukisan diatas kertas dan 1 instalasi Pseudo Menagerie.  

Selain Wulang, perupa muda lainnya Rukmunal Hakim. Hakim menggabungkan karya lukisan dengan aplikasi yang dikembangkan oleh kawannya. Lukisan yang nyata itu bisa memiliki atribusi lainnya saat dilihat dengan device  kamera smartphone.

Terlihat seperti aplikasi art yang terpasang pada ponsel pintar.  Dan pemanfaatan perangkat gadget ini sangat terasa  saat menikmati karya Hakim. Instalasi lainnya adalah karya Meliantha Muliawan yang menyuguhkan Instalasi Kain Lap. Meliantha membuat practical art untuk bisa menjadikan sebagai illusion use yang basisnya adalah visual.

Host Kegiatan Use Illusion Winda Siregar menyebut kegiatan ini sebagai medium untuk mengexplore karya-karya anak muda. “Dan saya tertarik dengan seniman yang sering dibawa oleh Edwin Galeri, top and coming sehingga mereka bisa berkembang dan berkarir di tempat lainnya,” ungkap Winda. Winda juga menyebut saat ini informasi tentang galeri dan pameran sangat cepat sehingga masyarakat cukup mudah mengakses. “Saat ini sangat mudah orang mendapatkan tiket, beda misalnya 10 tahun lalu saat saya seusia mereka,” ungkap Winda yang juga aktif dalam komunitas pelestarian meseum di berbagai daerah.

Dalam  Exhibition yang dibuka Rabu  malam  pagelaran ini terasa beda. Gabungan antara virtual dan imajinasi realis sangat terasa. Karya-karya yang ditampilkan menyiratkan digitalisasi telah masuk pada karya rupa. Bukan hanya patung dan lukisan yang terpampang dalam deretan dinding galeri yang berdiri sejak 1984 ini.  “Namun juga menampilkan video, fotografi dan macam – macam. Dan kami memang selalu menantang para seniman muda ini untuk mengekplorasi,” ungkap Edwin Rahardjo, Pengelola Edwin Galeri.

Edwin mengaku senang jika ada seniman muda yang mau menyuguhkan hal-hal baru dan terbuka untuk publik. “Sejak 1991 saya  selalu menantang seniman-seniman muda untuk menyuguhkan hal-hal baru seperti tema kali ini,” ungkap Edwin.


Like it? Share with your friends!

132
132 shares, 132 points

0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Choose A Format
Personality quiz
Series of questions that intends to reveal something about the personality
Trivia quiz
Series of questions with right and wrong answers that intends to check knowledge
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Countdown
The Classic Internet Countdowns
Open List
Submit your own item and vote up for the best submission
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Meme
Upload your own images to make custom memes
Video
Youtube, Vimeo or Vine Embeds
Audio
Soundcloud or Mixcloud Embeds
Image
Photo or GIF
Gif
GIF format