179
341 shares, 179 points

Leuit Bersama di sekitarmu ? Kalau sudah tahu, masih ada dan bahkan keluarga di desa menyimpan hasil panen padi di Leuit, berarti kita selamat. Jika tidak tahu, tidak ada salahnya kita bersama mencari informasi dan bahkan menyebarkan informasi tentang adanya leuit. 

Indonesia memaksimalkan Nilai dan Keberadaan Leuit di tingkat Nasional, karena sudah dicontohkan dan berhasil mempertahankan ketahanan pangan keluarga di pedesaan.

Cetak Sawah Baru di Era New Normal dan Maksimalkan Pemuda Desa sebagai Generasi Petani Indonesia. Kita bersama yakin dan optimis, bukan kita yang ingin tapi memang membutuhkan. Tidak dapat mewujud jika tidak bersama-sama bekerja.

LeuitLeuit di Desa Kanekes (Foto : Oki Daroki/sultantv.co)

Dicontohkan seperti adanya arahan Presiden Joko Widodo untuk mengantisipasi krisis pangan dunia. Kebijakan dilakukan, untuk mengantisipasi terjadinya krisis pangan akibat pandemi corona. Organisasi Pangan dan Pertanian atau Food and Agriculture Organization (FAO) sebelumnya menyatakan, krisis pangan dunia berpotensi terjadi pada April dan Mei 2020. 

Apa terjadi krisis pangan di Indonesia?
Kita yakinkan bahwa khususnya di Negara kita hal itu tidak akan terjadi.

Kenapa? Karena kesadaran dan penyadaran akan pentingnya bertani, berkebun terus hangat dan semakin menjadi fokus masyarakat. Semakin banyak yang menanam di rumah, sekitar rumah. Memanfaatkan dan memaksimalkan keterbatasan area tanam, tanam dalam pot polybag dan berbagai inovasi seperti pertanian hidroponik (pertanian yang menggunakan air sebagai media menggantikan tanah), aeroponik (modifikasi dari hidroponik), aquaponik (bertanam yang memungkinkan tidak hanya memproduksi tanaman, namun juga beternak ikan).

Bisa saja, krisis pangan dapat terjadi karena rantai pasok pangan terganggu seiring kebijakan karantina wilayah (lockdown) dan pembatasan sosial berbagai negara di masa pandemi corona, tetapi Alhamdulillah masyarakat kita tetap dapat mengantisipasinya dengan berbagai upaya berbagi dan bersinergi. Nyatanya, para pemuda desa bahkan tingkat RT dan RW menggalang kekuatan seperti yang dilakukan oleh cekberastetanggadotcom berbagisayuran bazar sembako dan gerakan-gerakan sosial yang tumbuh baik dan subur kembali semasa awal pandemi hingga kini.

Bahkan ada kisah yang unik tentang keluarga petani yang membagikan hasil kebunnya karena pembatasan sosial bersekala besar (PSBB) kepada seluruh warga sekitar kampungnya, tetapi petani itu malah mendapat “hasil jual-beli”nya itu berkali lipat. Karena apa? Ya! Ia telah membuka transaksi perniagaan dengan Tuhan. Jadi, dasar Sila pertama Negara kita “Ketuhanan Yang Maha Esa mengarahkan pada “Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab” hingga terbentuknya “Persatuan Indonesia”.

Teknologi Pengolahan Lahan Pertanian Modern yang dimiliki Bersama dapat menjadi Indikator kemajuan Pertanian Indonesia.

Keseimbangan dan penerapan yang tetap berpegang pada keilmuan, pengetahuan, pengaturan sampai ke penentuan hari tanam dan panen berdasar Warisan tak benda dari leluhur disandingkan dengan Inovasi, Teknologi bahkan menggunakan Internet of Think dan Artificial Intelegent.

Dapat kita baca dari Majalah JUMANTARA, edisi 7 pada situs Perpusnas, kita Mengulas sedikit soal pelaksanaan Ketahanan Pangan dalam Tata Cara Bertani pada masyarakat di abad XIX dalam Naskah Wulang Tani karya Pujangga Besar Tatar Sunda Raden Haji Moehammad Moesa yang ditulis oleh Suroto Rosyd Setyanto (Universitas Padjadjaran), diantara intisari utamanya adalah bahwa Naskah WT secara umum menjelaskan tata cara dalam menanam tanaman buah-buahan dan tanaman palawija.

Tata cara bertani tersebut antara lain: menanam pohon klapa ‘kelapa’, manggis, nangka, durèn ‘durian’, pělěm ‘mangga’, pohon jambu, rambutan, jeruk, pijetan, duku, kokosan, mulwa, srikaya, kawis, katès ‘papaya’, katès gantung ‘papaya gantung’, belimbing, nam-nam, pohon salak, wuni, asem, belimbing wuluh, carěmé ‘cermai’, pete, jengkol, pakel, kudhu ‘mengkudu’, miri ‘kemiri’, mlinjo, aren, pring ‘bambu’, bulung ‘nipah’, nanas, jarak kepyar, gluga, nangka sabrang, kluwih ‘kaluwih’, pucang, kěmbang kananga ‘bunga kenanga’, kěmbang tanjung ‘bunga tanjung’, bunga pacar, bunga pudak, pandan klasa, jambe, gandaria, kenari, randu, kapas, tali pohung ‘ketela rambat’, gembili, uwi lěgi ‘ubi manis’, běsusu ‘bengkoang’, uwi jahé ‘ubi jahe’, pati bubuk, kacang lanjaran ‘kacang panjang’, kacang buncis, kacang wulu, kacang tunggak, kacang jerami, kacang hijau, kacang ucu, kacang keyor, dan kacang jepun.

Baca Juga : Peringatan Sedekah Bumi Secara Nasional Adalah Hari Krida Pertanian

Manfaat utamanya dapat digunakan untuk mengatasi masalah kekurangan pangan dan kegiatan impor produk-produk pertanian, yaitu dengan menerapkan tata cara bertani dengan sistem pertanian organik dan metode tepat tanam.

Penerapan sistem pertanian organik dalam Wulang Tani yaitu dengan menggunakan pupuk alami dan pestisida alami, sedangkan metode tepat tanam dengan menerapkan teknik penanaman yang tepat, penyesuaian tanaman dengan tempat tanam, dan pengaturan jarak penanaman. Canggih kan? Pencatatan pola ketahanan pangan dalam sebuah naskah yang apik dibalut nilai sastra dan bahasa yang luhung dan diabadikan dalam situs kekinian.

Saat ini, swasembada pangan, ketahanan pangan, kedaulatan pangan, itu bisa akan kita capai Bersama.

Kedepan, tidak hanya soal cukupnya persediaan pangan kita yang tersimpan di buffer stock atau adanya warehouse mulai dari desa, kecamatan, kota kabupaten bahkan dalam tataran Nasional dan tatanan Internasional Indonesia adalah Pemenang dari Perang Pangan Dunia.

Maka, asah dan pertajam kembali perkakas dan ayunkan kembali cangkul hingga operasikan alat bantu teknologi untuk sebuah kepastian kita bersama dan bersama kita hidupkan kembali definisi yang pernah disampaikan Bapak Bangsa Ir. Soekarno bahwa PETANI sebagai Penyangga Tatanan Negara Indonesia.

Dengan Bersama kita Maju, dengan Bersama kita saling ngajeujeuhkeun.
#

Gawarugadha; Petani yang Menulis dan Penulis yang Bertani.


Like it? Share with your friends!

179
341 shares, 179 points

2 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  1. Setuju.
    Terimakasih sudah membuka wawasan buat “sadar” dan ga abai sama kondisi pangan kita ke depannya…

    moga banyak yang baca tulisan ini dan mulai ngelakuin gerakan-gerakan yang dimulai dari rumah. Bismillah….

Bagikan Artikel
Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
Video
Youtube, Vimeo or Vine Embeds
Image
Photo or GIF