119
119 shares, 119 points

Oleh Lili Tjahjandari

Banyak perubahan dan adaptasi yang dilakukan oleh masyarakat global berkaitan dengan pandemi covid 19, yang tidak saja dihadapi oleh bangsa Indonesia melainkan masyarakat dunia. Perubahan paradigma terjadi di tataran budaya kerja, budaya konsumsi dan juga budaya produksi. Masyarakat lebih banyak menginvestasikan waktu untuk berdiam di rumah untuk menghindari penularan virus covid 19. Keterkaitan rantai produksi dari desa menuju kota terkadang memiliki hambatan bila terjadi perubahan perilaku konsumsi masyarakat. Pandemi covid 19 telah merubah paradigma desa, saat banyak masyarakat kota yang beralih ke desa untuk mencari penghasilan yang lebih baik. Paradigma desa saat pandemic covid 19 adalah landasan diselenggarakannya Konggres kebudayaan Desa 2020 yang dilangsungkan secara virtual pada hari Rabu, 1 Juli 2020.


menurut Prof Melani Budianta dari Universitas Indonesia masa depan desa sesungguhnya sangat terkait dengan kondisi kota, karena produk pangan yang dihasilkan didesa akan dikirim ke kota sehingga rantai konsumsi masyarakat kota merupakan hal yang menentukan bagi pengembangan wilayah desa. Akibat industry yang melambat di wilayah perkotaan makan rantai produksi desa juga mengalami hambatan. Namun di sisi lain saat menghadapi pandemic covid19, masyarakat kota berupaya merubah pola konsumsi pangan yaitu mencari makanan sehat, dan hal itu sesungguhnya merupakan peluang besar bagi desa untuk meningkatkan produksi pangan yang berkualitas. Masyarakat kini lebih beralih ke makanan lokal dibandingkan produk impor.


Sesungguhnya peradaban bertumpu pada desa karena di desa terdapat ketahanan pangan, wawasan dan nilai-nilai lokal. Desa adalah basis budaya solidaritas dan gotong royong. Sehingga upaya untuk meningkatkan potensi desa sangatlah penting pada saat menghadapi pandemic covid 19 yang diperkirakan akan memakan waktu yang cukup lama. Potensi desa dapat ditingkatkan melalui agensi-agensi perubahan di desa yaitu tokoh-tokoh muda desa yang mendapatkan akses ilmu dan memiliki semangat untuk membangun desa, sebagai contoh salah satunya adalah desa Ledok Ombo di Jember, Jawa Timur, yang dikenal Sebagian besar warga dewasa dari desa tersebut bekerja di luar negri sebagai TKI. Maka yang tertinggal adalah anak-anak dan orang tua, namun melalui kesadaran tokoh pemuda di Ledok Ombo, nilai-nilai kearifan lokal dibangkitkan dengan festival lokal yang dikelola oleh masyarakat secara mandiri. Hal ini membuktikan bahwa masyarakat desa memiliki potensi dalam membangun kemandirian.


Kemandirian desa adalah kemandirian bangsa. Kemandirian pangan dibangun oleh nilai simbolik lumbung padi, yang bermakan keberlanjutan ketahanan pangan, lumbung desa juga berarti lumbung budaya daerah, yaitu upaya merawat nilai-nilai lokal, tradisi dan identitas daerah. Di masa teknologi digital saat ini potensi dan identitas lokal yang ada di wilayah pedesaan dapat diangkat melalui media teknologi informasi sehingga dapat memberikan keuntungan bagi bangsa, karena kekayaan budaya dan keberagaman produk pangan lokal akan memberikan nilai yang unggul bagi bangsa Indonesia.


Berkaitan dengan peran penting desa yang diangkat dalam Konggres Kebudayaan Desa sesungguhnya masyarakat dan generasi muda yang tinggal di kota dapat berkontribusi dengan cara nyata untuk menyumbangkan tenaga dan pikiran secara gotong royong membangun wilayah pedesaan, mengangkat potensi desa melalui akses media digital, ataupun menggali nilai-nilai lokal desa-desa di Indonesia, membantu melakukan pembinaan dan pendampingan agar produk desa menjadi produk yang dapat bersaing di dunia global. Jika itu terlaksana, maka desa-desa di Indonesia akan semakin kuat dan menjadi lumbung budaya yang kokoh.

Oleh Lili Tjahjandari Adalah Pengajar Kebudayaan UI


Like it? Share with your friends!

119
119 shares, 119 points

One Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  1. Lumbung Budaya. Ya!
    memang itu yang perlahan dan terus masyarakat kita pahami dan terapkan dalam segala aktivitas. Leuit memiliki nilai yang Luhur. Nilai budaya dan membentuk kebudayaan yang mampu membuat kita dapat beradaptasi dengan mengupayakan adanya pengusahaan Adaptasi Kebiasaan Baru. Terimakasih Bu Doktor

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
Video
Youtube, Vimeo or Vine Embeds
Image
Photo or GIF