153
153 shares, 153 points

Puluhan anak-anak itu berbaris rapi dan menyambut dengan hangat saat sosok tua gempul berkacamata. Anak-anak itu kemudian melambaikan bendera kecil sebagai tanda menyambut. Sementara dibagian lapangan sekelompok anak-anak lainnya telah siap dengan adegan barongsai, kesenian khas etnis Tionghoa.

Pagi itu, Rabu (5/2) adalah hari bercerita atau Story Telling untuk siswa SD dan SMP Creative School Prince’s Tangerang. Udaya Halim lelaki tua yang disambut riuh adalah sosok yang ditungg-tunggu oleh siswa. Kedatangan Udaya yang juga penguru Yayasan  selalu dinantikan oleh mereka karena sering memberikan motivasi yang kreatif dan membuat suasana hangat. “Pak Udaya sering membuat cerita yang spontan dan itu selalu membuat anak-anak senang dan menunggunya,” Ujar Airin, Guru yang juga urusan kesiswaan. Bagi Airin, kedatangan Pak Udaya Halim yang tidak saban waktu harus dimanfaatkan agar bisa menyapa dan memotiviasi anak didiknya. Pagi itu, Udaya Halim ditemani Lili Tjahjandri, Pengajar Kebudayaan Universitas Indonesia.

Sebelum Udaya memulai dongengnya, tentu saja anak-anak diminta agar ada perwakilan  yang bercerita. Hans dan Kayla, siswa kelas 4 langsung menyanggupinya. Seperti terlatih  Hans bercerita tentang sosok Buaya Di Sungai. Sementara Kayla bercerita tentang Danau Samosir yang cukup terkenal. Keduanya fasih mendongeng versi mereka. Setelah keduanya mendongeng anak-anak lainnya boleh menafsirkan cerita dan menebak tokoh-tokoh yang ada dalam kisahnya. Secara bergantan mereka maju dan menebak tokoh yang sebelumnya diceritakan oleh Hans dan Kayla.

Setelah Hans dan Kayla bercerita kemudian Udaya siap siap bercerita. Perhatian anak-anak nyaris tak ada yang luput menunggu gerakam Udaya. Meraka mengikuti cerita dan geraka-gerakan yang disampaikan oleh Udaya. Suasana semakin ramai saat Udaya juga menghadirkan tokoh ceritanya dengan boneka-boneka yang dimilikinya. “Ini adalah property yang dimiliki sekolah untuk berbagai kegiatan,” ungkap Udaya. Udaya mengatakan sekolah yang didirikannya memang dibuat sedemikian bahagia dan kreatif. “Kita mengikuti kurikulum namun jangan lupa tidak semua itu harus dikelas,” ungkap Udaya. Banyak hal yang didapatkan tidak harus dikelas dan duduk mendengarkan guru. “Misalnya dengan Storry Telling ini anak-anak bisa mendapatkan banyak pelajaran pesan moral,” ungkap lelaki yang mengenyam Pendidikan di Inggris dan Australia ini.  Udaya menambahkan  dengan story telling, bisa tempat berlatih untuk menumbuhkan rasa berani dan kebanggan dimuka umum.


Like it? Share with your friends!

153
153 shares, 153 points

0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
Video
Youtube, Vimeo or Vine Embeds
Image
Photo or GIF