124
124 shares, 124 points
Mama Di Papua saat menggunakan Noken. Foto: Dodi Johanjaya

Oleh Lili Tjahjandri
(Pengajar Budaya UI)

Noken sangatlah erat dengan keseharian perempuan Papua. Merajut noken adalah tradisi dalam keluarga masyarakat Papua, noken selalu mengiringi tahapan kehidupan dalam tradisi, kelahiran, pernikahan hingga mengantarkan ke alam keabadian.

Noken memiliki fungsi yang sunfguh beragam. Terbuat dari bahan alami dari ranting-ranting tanaman lokal Noken mampu menahan beban yang cukup berat dan bersifat lentur sesuai benda yang diletakkan di dalamnya.

Noken mampu menahan berat badan bayi yang tengah digendong oleh sang ibu sambil melakukan aktifitas lain di ladang, noken juga mampu menahan berat buah-buahan dan hasil bumi lain untuk dijajakan di pasar, noken juga mampu menahan berat kayu-kayu bakar dan fungsi lainnya yang sungguh strategis maknanya.

Perempuan Papua di wilayah pedalaman mengisi keseharian dengan merajut noken, kegiatan ini adalah pencerminan bentuk gotong royong dalam masyarakat tradisi di Papua. Mereka mencari bahan untuk membuat noken bersama juga bersama merajut. Karya rajut yang indah ini kemudian menjadi alat untuk menyatakan rasa belasungkawa bila ada warga komunitas yang meninggal dunia, rasa bahagia bila ada warga yang melahirkan ataupun menikah.

Noken adalah kompleksitas budaya perempuan di Papua yang membanggakan Indonesia, sehingga noken menjadi salah satu warisan benda budaya yang telah diakui oleh Unesco. Karenanya noken perlu dipromosikan secara lebih luas. Mengacu pada kekuatan dan kelenturan noken maka noken dapat digunakan untuk keseharian.

Elemen alami noken sangatlah indah bila digunakan baik sebagai elemen fashion di era milenial maupun untuk mendukung fungsi tas untuk kebutuhan sehari-hari.


Like it? Share with your friends!

124
124 shares, 124 points

0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
Video
Youtube, Vimeo or Vine Embeds
Image
Photo or GIF