157
157 shares, 157 points
Anggota Dewan Pembina Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Rikard Bagun dan Pengajar Budaya UI Lili Tjahjandri saat peluncuran kulturina.id, Jum’at (29/11) Di Hotel Luwansa, Jakarta

Narasi politik saat ini mengisi ruang-ruang informasi utamanya jagat digital yang cenderung melahirkan kebencian. Masyarakat sejatinya perlu memproduksi narasi-narasi kebudayaan sehingga bisa mengganti narasi politik. Dengan narasi kebudayaan itulah, diharapkan keberagaman Indonesia akan terjaga.

Itu diungkapkan oleh jurnalis senior yang saat ini menjadi Anggota Dewan Badan Pembina Ideologi Pancasila (BPIP), Rikard Bagun saat hadir dalam peluncuran kanal budaya, kulturina.id, Jum’at (29/11) Di Hotel J.S Luwansa, Jakarta. Bang Rikard, sapaan Rikard Bagun menilai aktivitas kebudayaan bisa dianggap lebih netral dan bisa merangkul semua elemen agar tetap bergandengan.

Suguhan narasi kebudayaan diungkapkannya lagi bisa meredam gesekan antar suku dan etnis sekalipun. Para pendiri republik, sudah melakukan konsesnsus menjadikan keanekaragaman budaya, suku sebagai pengikat. Maka Generasi milenial saat ini harus disuguhkan narasi kebudayaan untuk menghindari gesekan yang tidak berfaedah.

Rikard mengapresiasi kehadiran kulturina.id yang mengambil bagian dalam memproduksi narasi budaya. “Saya yakin kebudayaan itu bisa mengikat dan terus mempersatukan bangsa Indonesia,” ungkap Rikard di depan undangan.

Sementara Bahroji, founder kulturina.id mengutarakan kehadiran kulturina.id adalah langkah kecil yang mencoba memberikan alternatif informasi kepada para milenial dari perspektif kebudayaan. “Semoga saja bisa mewarnai narasi politik yang memang terlalu dominan,” tukas Bahroji mengamini pernyataan Rikard Bagun. Kulturina, tambah Bahroji akan menggali khazanah kebudayaan yang saat ini masih minim diangkat ke permukaan. “Kita mencoba mengenalkan kebudayaan dengan pendekatan milenial seperti produksi visual, meme, sehingga mereka menarik untuk diperbincangkan,” ungkap Bahroji lagi.

Peluncuran kulturina.id mengangkat tema The Power Of Noken sebagai upaya mengangkat kebudayaan asli Papua yang notabene punya filosofi yang kuat untu kebangsaan.

Dalam kesempatan ini hadir Peneliti LIPI Mariana Elizabeth, Pemerhati Noken Maria Hasto, Pengajar Budaya UI Rillia Rusdiarti dan tamu undangan dari jurnalis, akademis dan beberapa komunitas.

Dalam acara ini juga diisi dengan Tarian Mambo Simbo dan menghadirkan berbagai kuliner Papua seperti papeda, talas dan lain sebagainya.


Like it? Share with your friends!

157
157 shares, 157 points

0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
Video
Youtube, Vimeo or Vine Embeds
Image
Photo or GIF