169
288 shares, 169 points
Hari Krida Nasional

Peringatan Sedekah Bumi, Menata waktu dalam arti menyesuaikan dengan keadaan alam. Tren saat ini dengan istilah Adaptasi Kebiasaan Baru untuk menjelaskan arti New Normal. Bukan kita yang mengatur waktu, tetapi kita menyesuaikan dan memaksimalkan waktu yang ada untuk berbagai aktifitas kerja, belajar, istirahat dan sebagainya, terutama dalam bertani.

Musim apa!?, ya tanam yang sesuai!. Mengalami, mengamati dan mengkaji alam sehingga penataan segala dapat tertib dan rapi. Bukan soal besar atau kecil, banyak atau sedikit. Sikap merasa cukup dan mensyukuri adalah akhir dari kenapa semua mesti dalam penataan.

Dikenal dengan “Pranata mangsa”. Adaptasi menjadikan petani dan juga berlaku untuk kita semua untuk lebih mengenal waktu beraktivitas; menanam dan waktu istirahat yang tepat. Lahan pertanian beserta ekosistem di sekitarnya akan memiliki waktu yang cukup untuk mengembalikan kondisinya, yakni kondisi setelah ditanami sampai dengan akan ditanami kembali. Termasuk juga kondisi tanah, yang akan memiliki waktu untuk beristirahat pasca bekerja dalam memproduksi bahan makanan dan atau nutrisi bagi tanaman. Maka dari itu, pranata mangsa juga dinilai lebih menjamin penataan, ketahanan dan keberlanjutan pertanian dan kehidupan petani.

Sedekah BumiSawah Terasering Desa Purwabakti, Bogor (Foto: Herdiyansah/BUMDesa Bhakti Kencana

Seren Taun, Leuit dan BUMDesa Bersama; Pengalaman dan Pengamalan serta Penghidupan.

Seperti di Desa Purwabakti, masyarakat masih menggunakan perhitungan musim dan waktu tanam untuk padi dan komoditas lainnya. Kampung Adat Cisalada yang berada di Kecamatan Pamijahan Kabupaten Bogor menjalankan nilai Mipit Amit Ngala Menta dalam rangkaian proses menanam dan panen padi. Kawasan sawah terasering yang dimiliki akan membuat kita berucap takjub. Ditambah Rice Harvest Festival and Ceremony yang guyub disebut Seren Taun. Dalam festival dan perayaan/syukuran masyarakat kampung adat cisalada melakukan beberapa aktivitas, seperti “Ngala Cai Kukulu Ka Tujuh Hulu Cai”, “Arakan Dongdang”, “Sedekah Bumi, Netepkeun” dan“Ngembang”. Diselenggarakan pula aktivitas masyarakat yang dapat dihadiri, diapresiasi dan sekaligus menjadi ajang silaturahmi warga dari luar desa serta wisatawan serta unjuk potensi desa seperti kegiatan Pameran Produk Lokal, Pentas Seni Budaya, Pawai Seribu Obor, Pagelaran Pawai Obor.

Baca Juga : Leuit Bersama, Pertahanan Pangan Nasional; masih ada Leuit di sekitarmu?

Adaptasi Kebiasaan Baru.

Adaptasi juga dilakukan untuk menyeimbangkan penggunaan waktu produksi di ladang dan distribusi bahkan hingga ke pasar. Kang Bob Asep Saepudin melakukan penataan waktunya untuk kebun dan pasar. “Kita ini tani jeung melak, mungkin belum layak disebut petani, berat ternyata gelar petani itu apalagi kalau kita tahu apa yang disampaikan Bapak Proklamator bahwa kita ini Penyangga Tatanan Negara Indonesia, beratkan!!? “ ungkapnya dengan nada semangat dan meyakinkan bahwa peran petani memang sangat penting bagi semua.

Kolaborasi saat ini terus terjalin dan sangat terlihat harmoni Pemerintah Desa dan Badan Usaha Milik Desa menjadi penanggung jawab ketahanan pangan di tingkat pedesaan. Petani menanam untuk memenuhi kebutuhan primer dan sebagian dialokasikan untuk dapat diserap BUMDESA untuk pengkondisian kecukupan pangan masyarakat wilayah desa dan sekitar tetangga desa yang membutuhkan.

Inovasi Pemuda dan Budaya Kreatif.

BUMDesa Bhakti Kencana Desa Purwabakti melakukan langkah-langkah dan terobosan inovasi, Pak Ayong akrab disapa menceritakan perjalanan awal hingga saat ini. Jiwa Muda yang bergerak dan menggerakkan berbagai sektor potensi desa melahirkan inovasi terbaik. memang bagi desa menanam padi serta panen hasil adalah biasa, tetapi jika untuk dapat ditata, dikelola serta terdistribusi dengan baik mungkin agak tidak biasa. Menanam Padi kemudian Panen, disimpan di Leuit sebagai buffer stock pangan keluarga desa. Saat ini Desa Purwabakti sudah dapat berbagi hasil pertaniannya bagi desa/daerah sekitar yang membutuhkan dan bersinergi dengan BUMDesa lainnya dalam pengadaan Beras Sehat Lokal.

Leuit Karuhun, menjadi bukti nyata Ketahanan Pangan Kabupaten Bogor yang ada di Kecamatan Pamijahan.

#


Like it? Share with your friends!

169
288 shares, 169 points

4 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

    1. Terima kasih Pak Muhtar atas tanggapannya. Ya! Sebagian kaum millenial mendengar kata “leuit” saja mungkin sangat asing. Tetapi para petualan muda atau traveler akan menemukan di beberapa lokasi Kampung atau Desa adat atau bahkan simbol, miniaturnya selalu ada di kegiatan yang berbau budaya dan pertanian. Spirit leuit-pun terlihat dalam penciptaan karya-karya millenial dan kekinian, Yakin!

  1. Begitu banyak cara untuk menerapkan kepedulian kita terhadap bangsa ini, Leuit menjadi bukti peninggalan tradisi leluhur yg amat penting.

    1. Terimakasih Pangersa Simaung yang memberikan tanggapan. Peninggalan itu akan menjadi wawasan nusantara dan akan kembali menjadi kesadaran kolektif bahkan kelompok-kelompok yang menunjukan kepedulian dan kemajuan bangi Bangsa kita. Peninggalan yang tidak ditinggalkan, peninggalan yang menjadi alasan Kemandirian dan kelaulatan kita.

Bagikan Artikel
Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
Video
Youtube, Vimeo or Vine Embeds
Image
Photo or GIF