206
206 shares, 206 points

Baru-baru ini Presiden Republik Indonesia Ke- 5 Megawati Soekarnoputri dan Pimpinan Soka Gakkai International (SGI), Hiromasa Ikeda saling bertukar cendera mata usai jamuan makan siang. Megawati memberikan kenang-kenangan berupa foto kolase momen kunjungan Presiden pertama RI Sukarno ke Jepang dan ukiran Dewi Saraswati.

Megawati menjelaskan makna ukiran Dewi Saraswati yang diberikan ke anak Presiden SGI tersebut. Megawati menuturkan, setiap memberikan cendera mata ke tokoh negara harus memiliki nilai. “Dewi Saraswati kan kalau di agama Hindu, dilambangkan itu sebagai seorang perempuan yang sangat cerdas, mumpuni, bijak, dan lain sebagainya. Sangat cocok untuk menggali ilmu pengetahuannya itu,” kata Megawati di Restoran Shibazakura, Hotel Prince Park Tower, Tokyo, Jepang (6/1/2020), seperti dikutip detik.com.

Dewi Saraswati dan Simbol Pengetahuan

Bagi orang Bali, ilmu pengetahuan memiliki kedudukan yang sangat tingi dan dihormati. Dewi Dewi Saraswati menjadi manifestasi dari semangat menjunjung pentingnya pendidikan bagi masyarakat hindu Bali. Saraswati sendiri merupakan sakti dari Dewa Brahma, digambarkan sebagai seorang dewi cantik jelita, bertangan empat, semuanya memegang simbol ilmu pengetahuan.

Saraswati berasal dari kata Saras yang berarti aliran atau sesuatu yang mengalir. Bisa juga diartikan mata air, sehingga kata saras sering juga diartikan sungai. Dewi Saraswati selalu digambarkan duduk di sisi sungai. Dapat dikonotasikan bahwa ilmu pengetahuan bersifat mengalir.

Tangan kanan belakang memegang genitri, dan tangan kiri belakang memegang pustaka. Sementara dua tangan di depan memegang alat musik dalam posisi memainkan. Sang Dewi duduk di atas bunga teratai, ditemani seekor angsa dan seekor burung merak yang sedang melebarkan ekornya, memperlihatkan keanggunannya.

Bali dan Seni Ukir

Jika ditelisik lebih dalam, perkembangan seni ukir di Indonesia dimulai zaman batu muda (Neolitik), yakni sekitar tahun 1500 SM. Pada zaman itu nenek moyang bangsa Indonesia telahmembuat ukiran pada kapak batu, tempaan tanah liat atau bahan lain yang ditemuinya.

Motif dan pengerjaan ukiran pada zaman itu masih sangat sederhana. Umumnya bermotif geometris yang berupa garis, titik, dan lengkungan, dengan bahan tanah liat, batu, kayu, bambu, kulit, dan tanduk hewan Pada zaman yang lebih dikenal sebagai zaman perunggu, yaitu berkisar tahun 500 hingga 300 SM. Bahan untuk membuat ukiran telah mengalami perkembangan yanitu menggunakan bahan perunggu, emas, perak dan lain sebagainya.

Setelah agama Hindu, Budha, Islam masuk ke Indonesia, seni ukir mengalami perkembangan yang sangat pesat, dalam bentuk desain produksi, dan motif. Ukiran banyak ditemukan pada badan-badancandi dan prasasti-prasasti yang di buat orang pada masa itu untuk memperingati para raja-raja. Motif ukiran, selain menggambarkan bentuk, kadang-kadang berisi tentang kisah para dewa, mitos kepahlawanan, dan lain-lain. Bukti-bukti sejarah peninggalan ukiran pada periode tersebut dapat dilihat pada relief candi Penataran di Blitar, candi Prambanan dan Mendut di Jawa Tengah.

Motif kesenian ukir Bali tidak bisa dilepaskan dari kerjaan-kerajaan di Jawa seperti Padjajaran dan Majapahit. Motif ukiran bali merupakan hasil peninggalan zaman kerajaan terdahulu. Motif ini semakin lama semakin mengalami kemajuan sehingga muncul berbagai variasi motif yang baru hingga kini.

Seiring waktu, keunikan dan kekhasan ukiran Bali makin dikenal luas. Bahkan, beberapa tahun terakhir mampu memikat pembeli, baik dari lokal maupun asing. Tidak mengherankan jika kemudian beberapa sentra ukiran Bali dengan mudah dapat dijumpai. Sebut saja, Desa Mas di Ubud, Desa Tangep di Mengwi, Desa Peken Belayu, Marga di Tabanan dan sederet desa lainnya, yang kondang sebagai sentra ukiran khas Bali.

Bahan baku pembuatan adalah menggunakan kayu jati, moja gaung dan cempaka. Namun karena tidak bisa mendapatkan kayu dari Bali, biasanya pelaku bisnis ukiran memesan bahan dari Kalimantan, Sumba atau Flores. Selain kayu, seni ukir Bali juga mulai menggunakan bahan batu padas. Perkembangan seni ukir yang menggunakan bahan batu padas itu berawal dari pembangunan tempat suci, karena hampir semua tembok dan bangunan suci (pelinggih) dihiasi dengan ukiran batu padas.[]


Like it? Share with your friends!

206
206 shares, 206 points

0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bagikan Artikel
Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
Video
Youtube, Vimeo or Vine Embeds
Image
Photo or GIF