132
133 shares, 132 points
Dapur Uwak, Curugoong, Kecamatan Padarincang, Serang Banten. Foto (Sultan Busro)

Oleh Tara Talita, YouthLab Indonesia

Generasi muda atau istilah marketnya sering disebut generasi milenial, mendambakan apa yang disebut sebagai social currency, yaitu merasa signifikan, terlihat keren dalam kelompok / komunitasnya. Aktivitas dianggap ‘keren’ oleh generasi muda, jika aktivitas tersebut memiliki social reward. Reward yang menghasilkan banyak likes, loves, comment pada apapun yang mereka posting di media sosial mulai dari hobi, makanan terutama momen liburan.
Tahun 2014, saya membuat kaleidoscope report tentang “The Emerging of Youth Traveller”, sebuah analisa mengenai meningkatnya tren traveling khususnya di kalangan generasi muda. Saat itu bermunculan profesi ‘travel blogger’ dengan ratusan ribu followers diantaranya Trinity (@trinitytraveler), Kenny Santana (@kartuposinsta) dan Alexander Thian (@amrazing). Mereka selalu membuat konten cerita liburan menarik disertai foto-foto cantik nan ‘Instagramable’.
Seiring dengan tren vakansi ini, kehadiran aplikasi pendukung “liburan” Traveloka, Airbnb sampai petunjuk jalan Citymapper juga menambah semangat berlibur karena semua dapat direncanakan secara cepat, mudah dan praktis.
World Tourism Organization pernah memprediksi dalam laporan berjudul “The Global Report on The Power of Youth Travel” bahwa di tahun 2020 tingkat wisatawan muda bisa mencapai 300 juta orang. Ketika laporan tersebut dikeluarkan, tentunya tidak ada yang menyangka tahun 2020 merupakan tahun terburuk dunia pariwisata.

Dapur Uwak, Curugoong, Kecamatan Padarincang, Serang Banten. Foto (Sultan Busro)

Industri travel, penerbangan dan perhotelan anjlok hingga 80%. Airy sebuah penyedia jasa akomodasi low-budget pun akhirnya menutup bisnisnya dan dinyatakan bangkrut. Padahal memasuki minggu Idul Fitri, disusul periode liburan sekolah, idealnya menjadi peluang bagi pelaku sektor pariwisata. Sayangnya tahun ini bukanlah tahun keberuntungan.
Libur panjang kali ini hampir tidak terasa karena sebagian besar dari kita sudah ‘libur panjang’ sejak dua bulan lamanya. Pupus harapan untuk bisa jalan-jalan saat mudik di kampung halaman.
Lalu bagaimana menyiasati keinginan berlibur di masa pandemi? Saatnya mencoba vakansi virtual!
Jika ingin berpetualang di Indonesia yang anti-mainstream, Google maps menghadirkan keindahan Pulau Sumba. Jelajahi 360-degree view Laguna Weekuri, Bukit Warinding Sumba Timur serta Kampung Adat Ratenggaro di Sumba Barat. Sungguh hidden gems yang mungkin lokasinya sulit diakses apabila dilakukan secara nyata.
Ada juga virtual tour yang digagas oleh Pirtual Project beberapa waktu lalu, yaitu “3 hari 2 malam di Sawahlunto”. Pengalaman virtual dihadirkan mulai dari bandara internasional Minangkabau, kemudian menyusuri tanjakan fenomenal Sitinjak Lauik, Pasar Songket sampai Danau Biru di Tumpuak Tangah.
Bagi penggemar museum dan ingin berkelana lebih jauh, cobalah virtual tour di Google Arts & Culture https://artsandculture.google.com/. Situs ini menghadirkan tour dari museum terkenal di berbagai belahan dunia. Penyuka sejarah dapat melihat artefak kuno di The British Museum, pengagum arkeolog silahkan memanjakan mata di Pergamon Museum Berlin atau untuk penyuka seni kontemporer, lihatlah karya seni virtual di The Met (Metropolitan Museum of Art) New York. Info lain mengenai pilihan virtual tour juga dapat dilihat melalui rubrik travel kompas.
Vakansi virtual memang tidak bisa menandingi serunya bervakansi langsung; berinteraksi bersama penduduk lokal, membeli cinderamata khas untuk oleh-oleh maupun berburu foto di destinasi favorit. Akan tetapi kesabaran dan pengertian sangat diperlukan di masa pandemi. Tunda dulu liburan, jangan mudik dan tetap di rumah, for the greater good.


Like it? Share with your friends!

132
133 shares, 132 points

0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
Video
Youtube, Vimeo or Vine Embeds
Image
Photo or GIF