151
151 shares, 151 points

Kulturina.id – Jika kita ngebahas soal suku-suku yang ada di Indonesia tentunya tak akan selesai satu atau du hari gaes. Karena ada banyak sekali suku yang menduduki bumi Pertiwi ini.

Berdasarkan data Badan Pusat statistik, Sensus Penduduk 2010 menyebut ada 1.331 kelompok suku di Indonesia. Kategori itu merupakan kode untuk nama suku, nama lain/alias suatu suku, nama subsuku, bahkan nama sub dari subsuku. Nah kali ini kita akan ngebahas salah satunya saja, yaitu suku Dayak Lundayeh yang ada di Kalimantan gaes. Simak aja yuk!

1. Sejarah Suku Dayak Lundayeh

Suku Dayak Lundayeh adalah suatu suku yang tinggal di daerah dataran tinggi diperbatasan timur indonesia tepatnya kawasan pegunungan Apo Duat yang dingin pada ketinggian 1.000-2.000 meter di atas permukaan laut (kalimantan timur) dengan penduduk diperkirakan sekitar 24000 jiwa. Suku ini ditemui di sekitar Bahau dan Mentarang, Kemaloh, Paya dan Sungai Sesayap, Krayan, Nunukan Malinau. Sementara di Sabah terdapat di kawasan Ulu Padas dan Mengalong. Sedangkan di Brunei yaitu di kawasan Temburong dan Pandaruan (Balang and Harrisson,1949; Harrisson 1959; Le Bar 1972).

Menurut legenda bahwa nenek moyang dayak Lundayeh berasal dari daratan Cina yang berimigrasi ke bumi Borneo berabad-abad yang lalu. Hal ini dapat dibuktikan dengan benda peninggalan budaya yang ada dalam masyarakat Dayak Lundayeh, seperti tabu’ (guci), rubi (tempayan), patung proslen, bau (manik) dari Cina dan felepet (pedang sejenis samurai). Sementara sejarawan barat bernama T.R. William (dlm. Mat Zin Mat Kib, 2003:25) berpendapat kira-kira 15,000 hingga 20,000 tahun yang lalu telah berlaku penghijrahan penduduk dari bahagian selatan Negara China ke Asia Tenggara dan kawasan pesisirnya, termasuklah ke Pulau Borneo.

Mereka diperkirakan berpindah dari benua Asia sejak 1,500 hingga 1,000 SM terdiri daripada kumpulan etnik yang pada hari ini disebut “Dusun” dan “Murut”. Berdasarkan fakta kelompok Dusun dan Murut dikatakan dua kelompok yang paling awal berada di Sabah. Kelompok ini secara umumnya disebut Melayu Proto (Bellwood 1985:103; Collins 1998:3-4). Tom Harrison (1959) dan S.Runciman (1960) juga mengesahkan bahawa kaum ini adalah yang terawal menetap di kawasan pergunungan di tengah Kepulauan Borneo. Jika demikian halnya, berdasarkan bukti-bukti sejarah, Lundayeh dikaitkan dengan rumpun bangsa Austronesia dari cabang Nusantara yang telah bertapak di Kalimantan.

2. Pertanian Suku Dayak Lundayeh

Dalam budaya masyarakat tani primitive, ada hubungan yang sangat erat antara manusia dan alam yang saling berkaitan, dan tidak bisa dipisahkan antara satu dengan yang lain. Pemahaman ini juga tidak terlepas dari budaya tani masyarakat Suku Dayak Lundayeh di Kecamatan Krayan.

Adat istiadat masyarakat Adat Dayak di Kalimantan mengatakan tanah merupakan milik mereka yang paling berharga. Antara masyarakat dengan tanah dan Dunia Alam Atas terdapat suatu hubungan yang amat menysejarah. Tanah bagi Masyarakat Adat Dayak diyakini sebagai Rantai Penghubung antara generasi masyarakat Dayak di masa lalu, masa kini dan masa yang akan datang.

Salah satu kategori/wilayah hutan yang berlaku dalam Masyarakat Adat Dayak adalah Simpukng Ramuuq, yaitu kawasan hutan yang disediakan untuk mengambil hasil hutan yang diperlukan untuk keperluan kampung, dimana status penguasaan dan pemilikannya bersifat kolektif.

Selama proses pembersihan dari gulma ini, benih padi disemaikan, yang sebelumnya benih tersebut dibawa ke gereja untuk diberkati. Tujuannya agar hasil panen dapat meningkat dan pertanaman aman dari gangguan hama/ penyakit tanaman. Acara pemberkatan benih ini disebut pade fra. Dalam proses perawatan padi sawah, seringkali terserang hama tikus, dalam hal ini dilakukan acara ngelabo labo atau gropyokan terhadap hama tikus.

3. Legenda Dayak Lundayeh

Sampai saat ini belum ada penelitian yang mendalam tentang asal-usul dayak Lundayeh yang dapat dijadikan referensi yang akurat. Namun menurut legenda bahwa nenek moyang dayak Lundayeh berasal dari daratan Cina yang berimigrasi ke bumi Borneo berabad-abad yang lalu. Hal ini dapat dibuktikan dengan benda peninggalan budaya yang ada dalam masyarakat Dayak Lundayeh, seperti tabu’ (guci), rubi (tempayan), patung proslen, bau (manik) dari Cina dan felepet (pedang sejenis samurai).

Nenek moyang dayak Lundayeh masuk melalui sungai Sesayap. Budaya mereka adalah nomaden atau hidup berpindah-pindah dari satu daerah ke daerah yang lain dengan cara mudik ke hulu sungai. Alasan budaya berpindah-pindah tempat tinggal ini, adalah: pertama karena menghindari dari kejaran musuh; dan kedua untuk mencari lahan yang dapat memenuhi kebutuhan hidup mereka.

Ada beberapa tempat yang diperkirakan pernah menjadi daerah hunian nenek moyang dayak Lundayeh, yaitu di daerah Seputuk dan Kebiran. Di dua daerah ini ditemukan kuburan tua dan batang ulin bekas dipotong-potong manusia lama. Oleh karenanya ada yang menyebut bahwa orang Mentarang adalah suku Putuk.

Sumpah tulang badi’ adalah salah satu legenda masyarakat yang menceritakan bahwa jaman dahulu ada dua bersaudara laki-laki dan perempuan yang hidup di Malinau. Demi keamanan dari kejaran musuh, si kakak meminta adik perempuannya mudik ke hulu sungai dan si kakak tetap tinggal di Malinau. Sang kakak bersumpah demi tulang badi’ (seperti sumpah Palapa dari Mahapati Gajah Mada) : “Bahwa tidak akan ada yang boleh masuk ke hulu sungai ini untuk mengganggu hidup adik perempuanku dan sungai Sembuak inilah batasnya”. Sejak saat itu sang adik perempuan mudik ke hulu sungai dan beranak-pinak di sana.

Sedangkan si kakak laki-laki tetap hidup dan beranak-pinak di Malinau. Sesuai dengan sumpahnya, sang kakak menjaga jangan sampai ada yang masuk ke hulu sungai untuk mengganggu adiknya. Sampai-sampai arus balik air-pasang sederas apapun dipercaya akan berhenti di muara sungai Sembuak.

Legenda sumpah tulang badi’ inilah yang dipercaya menjadi cikal-bakal manusia dari suku Tidung di Malinau dari sang kakak laki-laki, dan suku Putuk atau Lundayeh dari sang adik perempuan di hulu sungai.

4. Masuknya Agama Kristen

Sebelum agama Kristen masuk ke daerah Mentarang dan Krayan, masyarakat dayak Lundayeh adalah pemeluk animisme. Mereka percaya pada kekuatan-kekuatan alam-gaib, seperti penyembahan terhadap roh-roh nenek moyang serta benda-benda keramat lainnya.

Untuk mempertahankan diri atau mencari daerah yang menjadi lahan kehidupan, masyarakat tidak segan-segan untuk febunu’ (berperang) dengan komunitas yang lain. Jika seorang pria yang ingin dianggap perkasa, maka ia akan pergi ke daerah musuh untuk mengayau (memotong kepala).

Pada tahun 1932 seorang misionaris CMA (Christian Missionary Aliance) berkebangsaan Amerika bernama Rev. E.W. Presswood bersama isterinya Fiolla Presswood masuk ke wilayah masyarakat dayak Lundayeh di Mentarang dan Krayan menyebar agama Kristen. Pada awalnya masyarakat di Mentarang kurang menanggapi ajaran agama kristen, dan sulit untuk membuang kebiasaan-kebiasaan yang sudah mengakar turun-temurun.

Namun dengan tekun dan kesabaran yang tinggi, Presswood terus menyampaikan kabar penyelamatan manusia dari dosa dan mengadakan kebaktian-kebaktian rutin di dalam rumah-rumah penduduk di Mentarang sampai ke daerah Krayan. Pada tahun 1938 Ny. Fiola Presswod meninggal dunia di Long Berang. Oleh lembaga misi CMA, Presswood diberikan waktu cuti pulang ke USA untuk beristirahat dan menenangkan diri.

Sebagai ganti Presswood pada tahun 1939 dikirim, yaitu Rev. John Willfinger untuk melanjutkan misi Kristen di daerah Mentarang dan Krayan. Pada saat pecah Perang Dunia II, tentara Jepang yang bermarkas di Tarakan datang ke Long Berang untuk menangkap John Willfinger karena dianggap sebagai bagian dari sekutu.

Masyarakat Lundayeh pada waktu itu berusaha untuk menyembunyikan John Willfinger di desa-desa sekitar Long Berang, namun John Willfinger tidak ingin masyarakat dayak Lundayeh dilibatkan dan menjadi sasaran pembunuhan tentara Jepang. Pada tahun 1942 John Willfinger menjadi tawanan Jepang dan dibawa ke Tarakan.

Sungguh menarik bukan suku Dayak Lundayeuh ini? itulah kekayaan suku dan budaya di Indonesia. Pokonya kita patut berbangga hati terhadap bangsa kita. Mari tetap jaga dan lestarikan setiap warisan nenek moyang kita.


Like it? Share with your friends!

151
151 shares, 151 points

0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
Video
Youtube, Vimeo or Vine Embeds
Image
Photo or GIF